Chris Wilder Buka Suara: ‘Lampard Layak Pimpin Inggris Meski Dihantam Kritik di Chelsea-Everton’

penngbc – Chris Wilder, manajer Sheffield United, secara terbuka mendukung Frank Lampard sebagai kandidat kuat pelatih timnas Inggris. Pernyataan ini ia sampaikan meski Lampard baru saja menerima kritik pedas akibat performa buruk Everton di Liga Premier musim ini.

Dukungan Kontroversial

Wilder menegaskan, “Frank (Lampard) memiliki DNA sepak bola Inggris yang murni. Pengalamannya membawa Chelsea ke final Liga Champions dan membentuk pemain muda di Everton menjadi aset berharga. Kritik di media tak seharusnya mengaburkan prestasinya,” ujarnya dalam wawancara eksklusif dengan Sky Sports.

Ia juga menyindir federasi FA yang kerap memilih pelatih asing: “Kita punya banyak talenta lokal. Frank memahami filosofi sepak bola Inggris lebih baik daripada pelatih luar yang hanya fokus pada taktik instan”.

Respons Publik

Dukungan Wilder memicu perdebatan di media sosial. Sebagian fans Inggris setuju dengan argumen Wilder, sementara yang lain mengingatkan rekor Lampard di Chelsea (hanya 44% kemenangan) dan Everton (1 kemenangan dari 7 laga terakhir).

Rio Ferdinand, legenda Manchester United, turut berkomentar: “Frank punya kapasitas, tapi butuh waktu untuk membuktikan diri lagi. Timnas bukan laboratorium eksperimen”.

Profil Lampard

Lampard sebelumnya melatih Chelsea (2019-2021) dengan torehan 44 kemenangan dari 84 pertandingan. Di Everton, ia berhasil menjaga klub dari degradasi musim lalu, tetapi kini kesulitan mengatasi krisis performa dengan hanya 12 poin dari 14 pertandingan.

Peluang Nyata?

FA Inggris belum membuka proses seleksi resmi menggantikan Gareth Southgate. Namun, The Athletic melaporkan Lampard masuk dalam daftar pendek bersama Eddie Howe dan Graham Potter.

Wilder menambahkan, “Timnas butuh sosok yang bisa menyatukan pemain dan punya mental pemenang. Frank pernah merasakan tekanan besar sebagai pemain dan pelatih. Itu modal berharga”.

Kesulitan Inggris Melawan Pertahanan Denmark: Refleksi Kapten Harry Kane Pasca Pertandingan Seri

penngbc.com – Tim Nasional Inggris hanya berhasil meraih hasil seri dalam pertandingan mereka terhadap Denmark di Piala Eropa 2024. Jude Bellingham, pemain kunci dari skuad Inggris, mengalami kesulitan dalam mengatasi pertahanan kuat yang diterapkan oleh Tim Dinamit.

Rincian Pertandingan

Pertemuan antara Denmark dan Inggris dalam Grup C berlangsung pada Kamis (20/6/2024) malam WIB di Waldstadion, Frankfurt, dan berakhir dengan skor imbang 1-1. Inggris memulai dengan keunggulan melalui gol yang dicetak oleh Harry Kane di menit ke-18. Namun, Denmark berhasil menyamakan kedudukan melalui gol yang dicetak oleh Morten Hjulmand pada menit ke-34.

Analisis Performa Jude Bellingham

Jude Bellingham, gelandang yang bermain untuk Real Madrid, tampak kesulitan sepanjang pertandingan. Berdasarkan data dari OneFootball, Bellingham tidak mencatatkan satupun tembakan sepanjang pertandingan, hanya menciptakan satu peluang, melakukan dua kali sentuhan bola di area penalti lawan, dan kalah dalam sepuluh duel bola.

Performa ini sangat berbeda dibandingkan dengan penampilannya di pertandingan sebelumnya melawan Serbia, di mana ia dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan dan berhasil mencetak gol kemenangan Inggris dengan skor 1-0.

Evaluasi Kapten Tim Harry Kane

Harry Kane, kapten Timnas Inggris, menyampaikan bahwa penampilan Bellingham yang tidak maksimal bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi hasil pertandingan. Kane mengungkapkan bahwa seluruh anggota tim harus bertanggung jawab atas hasil imbang tersebut.

“Kami mengalami kesulitan, baik dalam penguasaan bola maupun dalam upaya mempertahankannya. Tekanan yang kami aplikasikan dalam dua pertandingan ini tidak efektif. Secara keseluruhan, kami tidak cukup baik, mulai dari lini depan hingga lini belakang, dari saya hingga Jordan Pickford,” ucap Kane dalam wawancara pasca-pertandingan.

“Seluruh tim bermain di bawah standar yang seharusnya. Kami terus menekan saat berusaha mempertahankan penguasaan bola,” lanjutnya.

Pertandingan tersebut memberikan pelajaran berharga bagi Timnas Inggris, terutama dalam hal peningkatan koordinasi dan efektivitas dalam serangan untuk pertandingan-pertandingan selanjutnya di turnamen.